Saat Maradona Membantai Garuda Muda
Penulis : Ari Syahril Ramadhan
Dibaca : 16889 | Komentar: 7
Sabtu, 3 Desember 2011 | 11:22 WIB
print Cetak | [-] Text [+]
DIEGO MARADONA
NET
Diego Armando Maradona, legenda hidup sepak bola dunia ini, dua kali menjebol gawang Timnas Indonesia di putaran final Piala Dunia U-20 tahun 1979 di Jepang.

MUNGKIN tak banyak yang mengetahui jika Timnas Indonesia Junior pernah mencicipi kerasnya atmosfer persaingan di level kejuaraan sepak bola tingkat dunia.

Momen tersebut terjadi saat Timnas Garuda Muda mendapat “wild card” ke putaran final Piala Dunia U-20 di Jepang pada tahun 1979.

Pada tahun 1979, Timnas junior Indonesia sebenarnya gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia Junior FIFA. Saat itu Skuad Garuda Muda hanya mampu finish di peringkat tiga pada babak kualifikasi Piala Dunia Junior FIFA.

Sedangkan zona Asia hanya memiliki tiga jatah tiket ke putaran final. Satu dipegang oleh Jepang selaku tuan rumah penyelenggara. Dua tiket lainnya dipegang Korea Selatan dan Korea Utara yang sukses menembus putaran final lewat jalur kualifikasi zona Asia. Namun karena alasan politis Korea Utara mundur dari kejuaraan dan Indonesia ditunjuk jadi pengganti.

“Sebetulnya kita tidak lolos kualifikas zona Asia. Kita waktu itu ada di peringkat tiga. Satu dipegang oleh Jepang dan posisi duanya Korea Utara,” ungkap salah satu anggota skuad Garuda Muda di Piala Dunia Junior FIFA 1979, Bambang Nurdiansyah saat ditemui persibholic.com di Hotel Aston Braga, Kamis (1/12/2011).

Saat itu Korea Utara menyatakan mundur dari putaran final Piala Dunia Junior FIFA  karena merasa tidak nyaman dengan sponsor utama gelaran tersebut, yaitu Coca Cola yang sangat identik dengan musuh mereka yaitu Amerika Serikat.

“Korea Utara mundur, soalnya sponsor kejuaraanya Coca Cola yang sangat identik dengan musuh ideologi mereka yaitu Amerika,” ujar Bambang.

Jadilah Garuda Muda maju ke putaran final Piala Dunia Junior FIFA 1979 di Jepang. Sebuah kesempatan emas untuk mengepakan sayap sang Garuda di level dunia.

Namun bukan berarti perjalanan skuad Garuda di putaran final Piala Dunia Junior FIFA akan berjalan mulus. Dalam babak penyisihan, Timnas Indonesia Junior tergabung dalam grup maut bersama Argentina, Yugoslavia dan Polandia.

“Kita waktu itu kebagian grup maut, penghuninya Argentina, Yugoslavia dan Polandia,” kenang Bambang.

“Waktu itu di Timnas Argentina Junior ada nama yang cukup mencolok, yaitu Diego Armando Maradona. Waktu itu namanya belum sefenomenal sekarang, tapi kita sudah tahu siapa Maradona. Dia masih muda, 17 tahun, tapi sudah ikut Timnas senior Argentina. Bahkan waktu Argentina uji coba lawan Belanda, Maradona sudah ikut main, jadi pemain inti dan menunjukan permainan yang bagus,” lanjutnya.

Jelang pertandingan kontra Argentina, bukanya melakukan psy war dengan kubu lawan, para pemain Garuda Muda justru memburu Maradona untuk berfoto bareng dengan sang legenda sepak bola dunia tersebut. Ulah para Garuda Muda tersebut sontak membuat sang Pelatih, Sutjipto Suntoro (alm) berang.

“Belum main saja sudah foto bareng. Sampe Pelatih almarhum Sucipto Suntoro sempet bilang kaya gini, ‘gimana dia kan besok lawan kalian. Sekarang malah foto-foto bareng, belum apa-apa udah kalah’,” kenang arsitek Persiram Raja Ampat tersebut sambil terkekeh.

Teguran sang legenda sepak bola Indonesia kepada anak asuhnya ternyata benar-benar terbukti. Keesokan harinya saat berlaga menghadapi Argentina, Garuda Muda harus mengakui keunggulan Maradona cs, 5 gol tanpa balas di Stadion Omiya, Jepang, 26 Agustus 1979.

Dari lima gol Tim Tango ke gawang Indonesia yang dikawal Endang Tirtana, dua gol diantaranya dicetak El Pibe de Oro atau Sang Dewa –julukan Maradona-.

Selain kalah telak 5 gol tanpa balas dari Argentina, dua penghuni grup lainya yaitu Polandia dan Yugoslavia juga pernah membuat sang Garuda tertunduk lesu.

Dalam babak penyisihan grup, Polandia menghabisi Garuda Muda dengan skor 5-0. Sedangkan Yugoslavia membantai Garuda Muda setengah lusin gol tanpa balas.

“Kalahnya ga pernah dibawah lima, Yugoslavia malah sampai 6-0. Pulang deh Indonesia. Tapi ini level dunia dan itu salah satu sejarah bahwa usia muda kita berlaga di tingkat dunia,” pungkasnya.

Argentina bersama Maradona saat itu akhirnya keluar sebagai juara FIFA World Cup U-20 usai mengandaskan Uni Soviet  3-1 di laga puncak.

Sekadar diketahui muncul kepercayaan jika para pemain yang pernah merasakan gelar juara ajang FIFA World Cup U-20, kelak ketika berkiprah di level senior juga akan mencicipi gelar juara dunia.

Hal itu juga berlaku ketika Maradona selang 7 tahun usai membawa Argentina juara Piala Dunia U-20 sukses menghantarkan pasukan Tango meraih gelar Piala Dunia 1986 yang dilaksanakan di Meksiko.(Ari Syahril Ramadhan)

AddThis Social Bookmark Button
1 dari 2 Halaman Komentar | Selanjutnya » Akhir ›
  • Pertama kali nonton timas, saat laga persahabatan di atas lapangan karpet di Arab, dan Indonesia kalah 0-8 dari kesebelasan Arab Saudi yg waktu itu belum sebaik sekarang ini
    Komentar Oleh: Mondana | Minggu, 22 Januari 2012 | 17:52 WIB
  • @kang deden: enya kang REKOR!!! tapi NGERAKEUN pisan rekorna euy! heueheu.... :(
    Komentar Oleh: admin | Selasa, 13 Desember 2011 | 08:45 WIB
  • Interesting stat: Indonesia hold the unenviable record of having conceded the most goals at a FIFA World Youth Championship. The Asian youngsters let in 16 goals. ternyata indonesia punya rekor resmi yang dicatat FIFA!
    Komentar Oleh: kang deden | Jumat, 9 Desember 2011 | 20:35 WIB
  • Sy nonton langsung. Pertama kalinya timnas berkaus merah celana biru
    Komentar Oleh: pen | Sabtu, 3 Desember 2011 | 17:04 WIB
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
Name
Email
Alamat
Komentar

Security Code
 
Nidji
Loading...
Loading...
Loading...